onpe bana maon

ASSALAMU 'ALAIKUM WR.WB (Thanks for Visiting)

KOMPAS.com - Internasional

TV ONLINE

PIANO


  

Rabu, 29 Januari 2014

AKSI BAKAR DUIT



AKSI BAKAR DUIT


Ada satu aksi yang sudah menjadi tradisi bagi sekelompok besar orang. Tradisi ini sudah dikenal sejak abad ke 18 bahkan sebelumnya. Tujuan dari tradisi ini adalah hanya untuk kenikmatan semata, yaitu kenikmatan yang tidak dapat membuat perut kenyang ironisnya aksi ini malah merugikan diri sendiri. “Ya... jelas dong duit di bakar apa gak rugi???” bahkan bisa mempercepat kematian. Kalau dibayangkan tentu aksi-aksi ini merupakan aksi yang sangat konyol bukan? Lantas apakah kita bisa menyebut mereka sebagai orang bodoh??? “Ya... tergantung orang yang menilai” tapi sesungguhnya semua manusia sama. Sama-sama bodoh dan sama-sama pintar. Tapi orang yang merasa pintar adalah orang yang paling bodoh di dunia ini yang tidak tahu bahwa masih ada langit di atas langit. 

Jadi, apakah perbuatan bakar duit ini salah? Ternyata tidak salah. Bahkan pemerintah sangat mendukung aksi ini. Mengapa demikian? Karena dengan aksi ini, jumlah kepadatan penduduk di dunia bisa cepat berkurang karena akan banyak orang-orang yang cepat bankrut nyawa. 

Bagaimana tanggapan pihak Bank Indonesia terhadap aksi ini,? duit dibakar. Sebenarnya bukan duit yang dibakar langsung oleh para sekelompok orang tersebut. Hanya saja mengganti duit dengan bon-bon tangkai yang dicampur dengan zat-zat beracun yang dibungkus dengan kertas dan diberi sedikit pemanis rasa di pangkalnya. Terus bon-bon tangkai tersebut di bakar di ujungnya sehingga terasa amat manis bila di hisap dan bisa mengeluarkan asap yang bisa menandingi asap pesawat jet yang melintas di udara.
Berapa kira-kira kerugian yang timbul? Jika dikalkulasikan dari kebiasaan sehari-hari sebagai contoh kita buat saja satu bungkus rokok (Ardath King Size 20 misalnya) dengan harga Rp.13.800/bks. Untuk satu hari bahkan bisa lebih, nah... jika selama satu bulan bisa mencapai Rp.414.000 maka dalam setahun bisa mencapai Rp. 5.037.000 hanya untuk dibakar begitu saja. (mending untuk cicilan rumah / motor/ atau ditabung buat mahar). Itu dari segi kerugian materi, bagaimana dengan kerugian lingkungan, fisik dan lain sebagainya.  
Kerugian lingkugan: asap rokok menyebabkan polusi udara, bayangkan jika anak-anak, ibu hamil, non-smokers dan balita yang masih punya harapan untuk hidup sehat akan menjadi perokok pasif dan parahnya mereka (perokok pasif) menurut para ahli akan mendapat efek samping yang lebih parah dibanding pembuang asap tersebut. Polusi rokok jauh lebih berbahaya daripada polusi kendaaraan bermotor. 
Kerugian Fisik: menggangu kesehatan sudah pasti bahkan seperti pepatah berkicau “umur satu batang rokok menggambarkan umur anda”. Nah... dari pepatah itu saja tentu kita sudah bisa mengerti bahwa dengan membakar duit ternyata bisa mempercepat seseorang untuk bertemu dengan sang pencipta, dan tentu akan bisa mengurangi kepadatan penduduk yang sangat pesat. Kerugian lainnya bisa jadi gara-gara puntung rokok banyak terjadi kebakaran karena puntung rokok yang dibuang sembarangan. Salah satu yang terpenting adalah gejala “KANKER” alias KANTONG KERING. 

Sabtu, 06 April 2013

PRONUNCIATION

these books contain about pronunciation in English
if you want to download click here
thanks for coming :)

Rabu, 20 Maret 2013

JADIKAN BLOG ANDA SEBAGAI PENGGANTI TELEVISI

1. Daftarkan blog anda di sini
2. Setelah selesai langkah pertama silakan masuk ke dasbor
3. Masuk ke Tata Letak
4. Klik tambahkan Widget
5. Pilih
6. Copas Embed code di bawah ini :

DOWNLOAD DI SINI DULU!!


7. Simpan pengaturan dan lihat blog anda
8. JUST PRACTICE BRING YOU SUCCESS :)

Senin, 14 Januari 2013

BID'AH BERTENTANGAN SUNNAH

BID’AH MASA KINI

Oleh: Syaikh Dr Sahlih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Di antaranya adalah :

[a]. Perayaan bertepatan dengan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Rabiul Awwal.

[b].Tabarruk (mengambil berkah) dari tempat-tempat tertentu, barang-barang peninggalan, dan dari orang-orang baik, yang hidup ataupun yang sudah meninggal.

[c]. Bid’ah dalam hal ibadah dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Bid’ah-bid’ah modern banyak sekali macamnya, seiring dengan berlalunya zaman, sedikitnya ilmu, banyaknya para penyeru (da’i) yang mengajak kepada bid’ah dan penyimpangan, dan merebaknya tasyabuh (meniru) orang-orang kafir, baik dalam masalah adat kebiasaan maupun ritual agama mereka. Hal ini menunjukkan kebenaran (fakta) sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sungguh kalian akan mengikuti cara-cara kaum sebelum kalian” [Hadits Riwayat At-Turmudzi, dan ia men-shahihkannya]

[1]. Perayaan Bertepatan Dengan Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Pada Bulan Rabiul Awwal.

Merayakan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah, karena perayaan tersebut tidak ada dasarnya dalam Kitab dan Sunnah, juga dalam perbuatan Salaf Shalih dan pada generasi-generasi pilihan terdahulu. Perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baru terjadi setelah abad ke empat Hijriyah.

Imam Abu Ja’far Tajuddin berkata : “Saya tidak tahu bahwa perayaan ini mempunyai dasar dalam Kitab dan Sunnah, dan tidak pula keterangan yang dinukil bahwa hal tersebut pernah dilakukan oleh seorang dari para ulama yang merupakan panutan dalam beragama, yang sangat kuat dan berpegang teguh terhadap atsar (keterangan) generasi terdahulu. Perayaan itu tiada lain adalah bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang tidak punya kerjaan dan merupakan tempat pelampiasan nafsu yang sangat dimanfaatkan oleh orang-orang yang hobi makan” [Risalatul Maurid fi Amalil Maulid]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, baik karena hanya meniru orang-orang nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa ‘Alaihis Salam atau karena alasan cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menjadikan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebuah perayaan. Padahal tanggal kelahiran beliau masih menjadi ajang perselisihan.

Dan hal semacam ini belum pernah dilakukan oleh ulama salaf (terdahulu). Jika sekiranya hal tersebut memang merupakan kebaikan yang murni atau merupakan pendapat yang kuat, tentu mereka itu lebih berhak (pasti) melakukannya dari pada kita, sebab mereka itu lebih cinta dan lebih hormat pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pada kita. Mereka itu lebih giat terhadap perbuatan baik.

Sebenarnya, kecintaan dan penghormatan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tercermin dalam meniru, mentaati dan mengikuti perintah beliau, menghidupkan sunnah beliau baik lahir maupun bathin dan menyebarkan agama yang dibawanya, serta memperjuangkannya dengan hati, tangan dan lisan. Begitulah jalan generasi awal terdahulu, dari kaum Muhajirin, Anshar dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik” [Iqtida ‘Ash-Shirath Al-Mustaqim 1/615]

[2]. Tabbaruk (Mengambil Berkah) Dari Tempat-Tempat Tertentu, Barang-Barang Peninggalan, Dan Dari Orang-Orang Baik, Yang Hidup Ataupun Yang Sudah Meninggal.

Termasuk di antara bid’ah juga adalah tabarruk (mengharapkan berkah) dari makhluk. Dan ini merupakan salah satu bentuk dari watsaniyah (pengabdian terhadap mahluk) dan juga dijadikan jaringan bisnis untuk mendapatkan uang dari orang-orang awam.

Tabarruk artinya memohon berkah dan berkah artinya tetapnya dan bertambahnya kebaikan yang ada pada sesuatu. Dan memohon tetap dan bertambahnya kebaikan tidaklah mungkin bisa diharapkan kecuali dari yang memiliki dan mampu untuk itu dan dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah-lah yang menurunkan berkah dan mengekalkannya. Adapun mahluk, dia tidak mampu menetapkan dan mengekalkannya.

Maka, praktek tabarruk dari tempat-tempat tertentu, barang-barang peninggalan dan orang-orang baik, baik yang hidup ataupun yang sudah meninggal tidak boleh dilakukan karena praktek ini bisa termasuk syirik bila ada keyakinan bahwa barang-barang tersebut dapat memberikan berkah, atau termasuk media menuju syirik, bila ada keyakinan bahwa menziarahi barang-barang tersebut, memegangnya dan mengusapnya merupakan penyebab untuk mendapatkan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adapun tabarruk yang dilakukan para sahabat dengan rambut, ludah dan sesuatu yang terpisah/terlepas dari tubuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disinggung terdahulu, hal tersebut hanya khusus Rasulullah di masa hidup beliau dan saat beliau berada di antara mereka ; dengan dalil bahwa para sahabat tidak ber-tabarruk dengan bekas kamar dan kuburan beliau setelah wafat.

Mereka juga tidak pergi ke tempat-tempat shalat atau tempat-tempat duduk untuk ber-tabarruk, apalagi kuburan-kuburan para wali. Mereka juga tidak ber-tabarruk dari orang-orang shalih seperti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, Umar Radhiyallahu ‘anhu dan yang lainnya dari para sahabat yang mulia. Baik semasa hidup ataupun setelah meninggal. Mereka tidak pergi ke Gua Hira untuk shalat dan berdo’a di situ, dan tidak pula ke tempat-tempat lainnya, seperti gunung-gunung yang katanya disana terdapat kuburan nabi-nabi dan lain sebagainya, tidak pula ke tempat yang dibangun di atas peninggalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, tidak ada seorangpun dari ulama salaf yang mengusap-ngusap dan mencium tempat-tempat shalat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di Madinah ataupun di Makkah. Apabila tempat yang pernah di injak kaki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yan mulia dan juga dipakai untuk shalat, tidak ada syari’at yang mengajarkan umat beliau untuk mengusap-ngusap atau menciuminya, maka bagaimana bisa dijadikan hujjah untuk tabarruk, dengan mengatakan bahwa (si fulan yang wali) –bukan lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah shalat atau tidur disana ?! Para ulama telah mengetahui secara pasti berdasarkan dalil-dalil dari syariat Islam, bahwa menciumi dan mengusap-ngusap sesuatu untuk ber-tabarruk tidaklah termasuk syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Lihat Iqtidha’ Al-Shirath Al-Mustaqim 2/759-802]



[3] Bid’ah Dalam Hal Ibadah Dan Taqarrub Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bid’ah-bid’ah yang berkaitan dengan ibadah, pada saat ini cukup banyak. Pada dasarnya ibadah itu bersifat tauqif (terbatas pada ada dan tidak adanya dalil), oleh karenanya tidak ada sesuatu yang disyariatkan dalam hal ibadah kecuali dengan dalil. Sesuatu yang tidak ada dalilnya termasuk kategori bid’ah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa mengerjakan amalan yang tidak ada padanya perintah kami maka dia tertolak” [Hadits Riwayat Muslim]

Ibadah-ibadah yang banyak dipraktekkan pada masa sekarang ini, sungguh banyak sekali, di antaranya ; Mengeraskan niat ketika shalat. Misalnya dengan membaca dengan suara keras.

“Artinya : Aku berniat untuk shalat ini dan itu karena Allah Ta’ala”

Ini termasuk bid’ah, karena tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Katakanlah (kepada mereka), ‘Apakah kalian akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” [Al-Hujarat : 16]

Niat itu tempatnya adalah hati. Jadi dia adalah aktifitas hati bukan aktifitas lisan. Termasuk juga dzikir berjama’ah setelah shalat. Sebab yang disyariatkan yaitu bahwa setiap membaca dzikir yang diajarkan itu sendiri-sendiri, di antara juga adalah meminta membaca surat Al-Fatihah pada kesempatan-kesempatan tertentu dan setelah membaca do’a serta ditujukan kepada orang-orang yang sudah meninggal. Termasuk juga dalam katagori bid’ah, mengadakan acara duka cita untuk orang-orang yang sudah meninggal, membuatkan makanan, menyewa tukang-tukang baca dengan dugaan bahwa hal tersebut dapat memberikan manfaat kepada si mayyit. Semua itu adalah bid’ah yang tidak mempunyai dasar sama sekali dan termasuk beban dan belenggu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu.

Termasuk bid’ah pula yaitu perayaan-perayaan yang diadakan pada kesempatan-kesempatan keagamaan seperti Isra’ Mi’raj dan hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perayaan-perayaan tersebut sama sekali tidak mempunyai dasar dalam syari’at, termasuk pula hal-hal yang dilakukan khusus pada bulan Rajab, shalat sunnah dan puasa khusus. Sebab tidak ada bedanya dengan keistimewaannya dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain, baik dalam pelaksanaan umrah, puasa, shalat, menyembelih kurban dan lain sebagainya.

Yang termasuk bid’ah pula yaitu dzikir-dzikir sufi dengan segala macamnya. Semuanya bid’ah dan diada-adakan karena dia bertentangan dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan baik dari segi redaksinya, bentuk pembacaannya dan waktu-waktunya.

Di antaranya pula adalah mengkhususkan malam Nisfu Sya’ban dengan ibadah tertentu seperti shalat malam dan berpuasa pada siang harinya. Tidak ada keterangan yang pasti dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan khususnya untuk saat itu, termasuk bid’ah pula yaitu membangun di atas kuburan dan mejadikannya seperti masjid serta menziarahinya untuk ber-tabarruk dan bertawasul kepada orang mati dan lain sebagainya dari tujuan-tujuan lain yang berbau syirik.

Akhirnya, kami ingin mengatakan bahwa bid’ah-bid’ah itu ialah pengantar pada kekafiran. Bid’ah adalah menambah-nambahkan ke dalam agama ini sesuatu yang tidak disyari’atkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Bid’ah lebih jelek dari maksiat besar sekalipun. Syetan akan bergembira dengan terjadinya praktek bid’ah melebihi kegembiraannya terhadap maksiat yang besar. Sebab, orang yang melakukan maksiat, dia tahu apa yang dia lakukannya itu maksiat (pelanggaran) maka (ada kemungkinan) dia akan bertaubat. Sementara orang yang melakukan bid’ah, dia meyakini bahwa perbuatannya itu adalah cara mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dia tidak akan bertaubat. Bid’ah-bid’ah itu akan dapat mengikis sunnah-sunnah dan menjadikan pelakunya enggan untuk mengamalkannya.

Bid’ah akan dapat menjauhkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan mendatangkan kemarahan dan siksaanNya serta menjadi penyebab rusak dan melencengnya hati dari kebenaran.

SIKAP TERHADAP AHLI BID’AH
Diharamkanmengunjungi dan duduk-duduk dengan ahli bid’ah kecuali dengan maksud menasehati dan membantah bid’ahnya. Karena bergaul dengan ahli bid’ah akan berpengaruh negatif, dia akan menularkan permusuhannya pada yang lain. Kita wajib memberikan peringatan kepada masyarakat dari mereka dan bahaya mereka. Apabila kita sudah bisa menyelamatkan dan mencegah mereka dari praktek bid’ah. Dan kalau tidak, maka diharuskan kepada para ulama dan pemimpin umat Islam untuk menentang bid’ah-bid’ah dan mencegah para pelakunya serta meredam bahaya mereka. Karena bahaya mereka terhadap Islam sangatlah besar. Suatu hal yang perlu pula untuk diketahui bahwa negara-negara kafir sangat mendukung para pelaku bid’ah dan membantu mereka untuk menyebar luaskan bid’ah-bid’ah mereka dengan berbagai macam cara, sebab didalamnya terdapat proses penghangusan Islam dan pengrusakan terhadap gambaran Islam yang sebenarnya.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Dia akan menolong agamaNya, meninggikan kalimatNya, serta menghinakan musuh-musuhNya.

Semoga shalawat dan salam tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad Shallallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabat-sahabat beliau.


[Disalin dari buku At-Tauhid Lish-Shaffits Tsani Al-‘Aliy, Penulis Syaikh Dr Sahlih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, edisi Indonesia Kitab Tauhid-3, Penerjemah Ainul Haris Arifin, hal 152-159, Darul Haq]

Jumat, 05 Oktober 2012

THE BEST MOTIVATION ISN’T MONEY

It used to be thought that money was the best way to motivate employees. Bonuses were given to workers achieving their objectives, pay raises were given to employees with outstanding performance, and stock options were granted to over-achievers.
But when the difficult global economy took hold several years ago, many companies were forced to cut back on financial incentive programs or even put them on hold in order to stay financially viable.




What can managers do to motivate employees when they have lost the previous ability to provide financial incentives? And, what can employees do to motivate themselves?
Some surveys have shown that “employee motivation is sagging throughout the world – morale has fallen at almost half of all companies.” That makes it more important than ever for managers to find ways to retain and motivate top performing employees. It also means employees need to think about ways to keep themselves motivated and improve their morale.

What I found interesting about the some surveys are it showed that three non-cash motivators are “no less or even more effective motivators than the three highest-rated financial incentives”:

•Praise from immediate managers
•Leadership attention (such as one-on-one conversations)
•A chance to lead projects or task forces

What this means for managers:
•Be sure you are interacting regularly with your employees and calling attention to outstanding work.
•Find ways to show top talent that they are important to the company, such as focus groups, one-on-one meetings with senior leadership, or even mentoring programs to promote development.
•Provide opportunities for high potential talent to continue learning, growing, and developing their skills, such as by leading cross-functional projects.

What this means for employees:
•If you like where you work and don’t want to leave, then find creative ways to stay happy and motivated at work.
•Volunteer to lead a new project or to mentor a younger worker.
•Work with your manager and Human Resources to determine cost effective ways to continue developing your skills so you can add even more value to the company.

The economy is now showing signs of recovery and I’m hopeful companies will begin reinstating monetary rewards in the near future. However, it’s important for both managers and employees to think about creative, non-financial ways to inspire and motivate.

As the author states, “A talent strategy that emphasizes the frequent use of the right non-financial motivators would benefit most companies in bleak times and fair. By acting now, they could exit the downturn stronger than they entered it.”